Loading

Solo Travelling To Waerebo

IMG_1700

 

(14/6/2015) Menyambung dari cerita sebelumnya, kali ini saya melanjutkan solo backpackers saya menuju desa diatas awan atau yang lebih dikenal dengan nama Desa Waerebo. Tanpa persiapan yang matang karena saya kembali ke Labuan Bajo dari sailtrip sekitar jam 6 sore. Sesampai di penginapan saya mencari travel yang bisa mengantar saya ke Ruteng. Setelah bertanya kesana kemari dan googling akhirnya saya mendapat nomor telepon travel yang bisa membawa saya menuju Ruteng. Sebelum naik ke Waerebo, saya sarankan untuk membawa uang tunai secukupnya karena disana (desa Denge/Dintor) Setahu saya tidak ada ATM.  Jam 8 pagi saya berangkat dari Labuan Bajo menuju Ruteng. Kalau tidak salah harga travel menuju ruteng pada waktu itu sekitar 100rb – 150rb. kendaraan yang digunakan juga sangat nyaman. Mungkin ada harga yang lebih murah tapi kendaraan yang digunakan tidak ber ac. Selama diperjalanan saya sangat menikmati pemandangan yang dilewati. Sesampai di Ruteng pukul 12 siang. Saya menunggu di sebuah warung untuk menunggu kendaraan umum menuju desa Denge atau Dintor karene desa tersebut merupakan desa terakhir sebelum kita menuju desa Waerebo. Setelah menunggu kira-kira 25 menit datanglah kendaraan umum yang orang sana menyebut “oto”

 

IMG_1678

 

Oto ini merupakan salah satu kendaraan umum selain ojek untuk menuju desa Dintor/Denge. Oto menjadi pilihan karena jika kita memilih untuk naik ojek maka kocek yang harus kita keluarkan pasti lebih dalam Yaitu,  sekitar 150ribu – 200rb rupiah. Namun jika kita memilih oto kocek yang kita keluarkan sekitar 25rb – 50rb saja. Oto merupakan kendaraaan truk yang dimodifikasi menjadi kendaraan umum. Bak truk yang biasa berada di belakang diganti menjadi tempat duduk yang bisa diduduki sekitar 10-15 orang. jangankan manusia, ternak para penduduk juga bisa diangkut dengan oto ini.

 

IMG_1686

 

IMG_1685

 

Sayapun duduk dengan hewan ternak seperti sapi , kambing dan ayam. Perjalanan menggunakan oto dari Ruteng ke Desa Denge/Dintor ini memakan waktu sekitar 4 jam. Dengan kondisi jalanan yang kurang bersahabat. Selama di perjalanan oto beberapa kali singgah di kampung – kampung yang dilewati. Ada penumpang yang turun dan naik. Ada pula yang hanya menitipkan hasil ladang dan ternak mereka untuk dibawa ke kampung selanjutnya. Sesampainya saya di desa Denge/Dintor sekitar pukul 5.15 sore. Disana sudah ada jasa ojek untuk membawa kita ke tempat guide berada. Penduduk disana sangat ramah. Bahkan saya ditawari makan dirumah daripada guide ini. Sayapun menerima tawaran makan dari guide saya karena kebetulan saya belum makan dari siang. Walaupun hanya cemilan dan teh hangat, itu sudah cukup membuat energi saya kembali. Saya disarankan oleh guide yang akan mengantar saya ke Waerebo untuk bermalam dulu semalam di Desa Denge/Dintor, namun karena waktu saya terbatas sayapun sedikit memaksa guide saya untuk tetap naik ke Waerebo pada sore hari menjelang malam. FYI ongkos guide sekitar 150rb PP namun karena saya nekad ingin naik pada sore hari sayapun menambah biaya guide/porter menjadi 250rb PP.

Dan singkat cerita trekking dimulai jam 6 sore. Perjalanan malam menuju Waerebo ternyata sangat memberi sensasi dan pengalaman yang tidak dapat di tukar dengan apapun. Sepanjang perjalanan kurang lebih 3 jam beberapa kali babi hutan lewat di depan kami. Namun guide/porter sudah dipersenjatai dengan parang panjang dan senter. jalanan sangat terjal, licin dan berliku-liku. Ditambah jarak pandang yang terbatas. Sayapun cmn mengambil waktu istirahat sepanjang perjalanan hanya 3 kali. Saya tidak ada persiapan sama sekali. Cuman ransel dipunggung berisi kamera, celana, baju, dan jaket. Saya lupa membeli air minum dan cemilan.

 

IMG_1681

 

Beruntung guide saya membawa 3 buah jeruk. Jadi bekal saya selama trekking sekitar 3 jam cuman 3 buah jeruk tanpa air minum. Menurut saya itu pengalaman yang luar biasa. Sebelum memasuki Desa Waerebo, ada bel yang terlebih dahulu di bunyikan agar penduduk Waerebo tahu kalau ada tamu yang datang untuk mereka mempersiapkan makanan. Saya sampai di Desa Waerebo sekitar jam 9 Malam. Sebelum saya dapat menikmati keiindahan Desa Waerebo, terlebih dahulu saya harus mengikuti upacara adat Desa Waerebo. mengikuti upacara sebenarnya untuk meminta izin pada leluhur-leluhur desa Waerebo untuk menghormati mereka. Sehabis mengikuti upacara adat saya lalu diantar ke “Mbaru Niang” nama dari rumah kerucut di Waerebo. Sesampai di dalam rumah adat Waerebo ternyata di dalam sudah ada banyak orang yang sedang duduk-duduk dan mengobrol. Ada beberapa dari turis mancanegara ada juga yang dari Flores sendiri, tepatnya mereka dari desa Ruteng. Karena saya baru tiba maka saya disiapkan makanan oleh warga setempat. Menu yang menurut saya sangat mewah untuk ukuran saya. Nasi putih, sayur asam dan ayam goreng.

 

IMG_1698 copy

 

Sehabis menikmati makan malam saya bercerita sedikit dengan teman – teman baru saya yang lebih dulu tiba disana. Mereka agak sedikit heran kenapa masih ada tamu yang naik pada malam hari karena menurut mereka itu sangat jarang terjadi. Jadi kami semua tidur di satu tempat (Mbaru Niang), dengan cara tidur melingkar membentuk Mbaru Niang. FYI untuk merasakan bermalam di Mbaru Niang kalian harus menyiapkan budget sekitar 300rb permalam harga itu sudah termasuk makan 3 kali. Karena saya kelelahan saya pun istirahat duluan.

 

IMG_1680

 

Keesokan harinya saya bangun sekitar jam 5 subuh. Suhu udara disana sangatlah dingin. Akhirnya setelah menunggu semalaman saya dapat menikmati keindahan “Desa Diatas Awan”.

IMG_1688

 

IMG_1696

 

IMG_1683 copy

 

IMG_1694

 

IMG_1693 copy

 

IMG_1699

 

IMG_1690

 

Udara yang bersih dan hawa yang sejuk ini tidak dapat saya dapatkan di kota. Sayapun betul-betul menikmati keindahan Desa Waerebo. Setelah bercengkrama dengan warga lokal yang selalu tersenyum akhirnya sayapun kembali ke turun ke Desa Denge/Dintor sekitar jam 11 siang.

 

IMG_1682

 

Perjalanan dari Waerebo menuju Desa Denge/Dintor terasa lebih santai karena tidak diburu waktu dan saat itu ada banyak orang juga yang semalam bermalam di Waerebo pulang pada hari itu.

 

IMG_1692

 

Sesampainya di Desa dintor/Denge saya berencana menyewa ojek menuju kota ruteng karena pada hari itu tidak ada angkutan umum / oto yang beroperasi. Namun saya sangat beruntung ternyata ada kawan-kawan baru saya yang ingin kembali ke desa Ruteng menggunakan mobil. Mereka pun menawarkan tumpangan, mobil nya berbentuk pickup. Jadi saya dan beberapa orang duduk dibelakang mobil. Sepanjang perjalanan kami mengobrol dan tertawa. Dan kami sempat singgah di rumah dari kawan mereka untuk makan siang. Kami singgah untuk makan dan beristirahat sekitar 2 jam. Tak terasa sekitar pukul 6 saya sampai di Ruteng.

 

IMG_1691

 

IMG_1679

 

IMG_1684

 

Dan kami pun berpisah. Saya dicarikan travel menuju Labuan Bajo oleh mereka. Saya sangat bersyukur sekali dapat kawan baru di sepanjang perjalanan saya. Singkat cerita saya kembali ke Labuan Bajo dari Ruteng sekitar pukul 7 malam dan sampai ke Labuan Bajo jam 12 malam.

Check out my videos below!

1 Comment

LEAVE A COMMENT